Sajiansedap.id – Artis Indonesia yang satu ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi orang tua dengan anak yang terlahir istimewa.
Adalah Cindy Fatika Sari, artis yang terkenal sebagai model, pembawa acara, bintang iklan, pemeran sinetron, dan penyanyi yang berkarir sejak 1992.
Di tengah perjalanan karir yang mulai memuncak, Cindy memutuskan untuk menikah dengan artis Tengku Firmansyah pada 11 Maret 1999.
Dari pernikahan tersebut, pasangan artis ini sudah dikaruniai tiga orang anak.
Mereka adalah Tengku Syaira Anataya, Tengku Omar Atalla dan Tengku Keanu Zimraan.
Namun, Omar sedikit berbeda dari anak-anak lainnya.
Kembaran Keanu Zimraan ini menyandang Autism Spectrum Disorder (ASD).
Baca Juga : Selain Enak Dicoel Sambel, Lalapan Murah Ini Juga Ampuh Basmi Bau Badan, Jadi Tak Butuh Deodoran!
Omar Adalah Berkah Terindah
Tanpa mengeluh dan malu, Cindy selalu mengasuh Omar dengan kasih sayang yang sangat tulus.
Istri Tengku Firmansyah ini justru mendapatkan banyak pelajaran hidup dari Omar yang menyandang ASD.
Meskipun lahir dengan ASD, Cindy selalu bangga pada anak laki-lakinya ini.
Ia kerap mengunggah kisah Omar di media sosialnya.
Bagi Cindy dan sang suami, Omar bukanlah seorang anak yang berbeda dari yang lain.
Cindy menganggap Omar sebagai anak yang unik, dan cerdas, seperti yang ia tunjukkan di postingannya beberapa waktu lalu.
"I love someone with autism to the moon and back ???? His name is Omar ????," tulis Cindy dalam bagian caption foto yang diunggah.
Baca Juga : Dengan Resep Risoles Ragout Jagung Ini, Pemula Pun Bisa Menyajikan Camilan Favorit Keluarga
Tentang Autisme
Ya, seperti yang diungkapkan oleh Cindy, orang dengan autis memang unik.
Namun sayang, masyarakat awam sering menganggap autis sebagai suatu penyakit kejiwaaan, padahal bukan.
Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan fungsi otak pada manusia yang berpengaruh pada perilaku penyandang sehari-hari.
Gejala yang timbul apabila seseorang menyandang autis di antaranya sulitnya berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang lain dan berperilaku tidak biasa.
Autisme dapat didiagnosa sejak bayi atau sekitar usia 6 bulan.
Sementara itu, gejala-gejala autis bisa mulai timbul pada penyandang sejak 30 bulan dari kelahirannya.
Baca Juga : Baru Punya Instagram, Mayangsari Tak Ragu Pamer Makanan, Sepatu Mahal, Hingga Kemesraan dengan Suami!
Sebagai orang tua anak penyandang autis, Cindy tentu memiliki pola asuh anak yang berbeda dengan pola asuh biasanya.
Ia harus memberikan yang terbaik agar anaknya tidak mengalami penurunan kondisi fungsi otak.
Terapi bagi penyandang autis tidak dapat dilakukan dalam jangka waktu yang singkat, melainkan terapi dilakukan seumur hidup penyandang.
Selain terapi, terdapat beberapa cara untuk mencegah penyandang autis berperilaku tidak wajar, yaitu dengan pemberian obat dan diet gluten free casein free (GFCF).
Diet GFCF ini bisa diterapkan oleh setiap orang kepada anaknya yang menyandang autis, termasuk Cindy.
Diet GFCF untuk Penyandang Autis
Cara makan pada anak autis seperti menolak makan, memilih-milih makanan, kesulitan menerima makanan baru, tantrum dan gerakan mengunyah yang sangat pelan menjadi suatu permasalahan yang cukup serius.
Baca Juga : Resep Kembang Goyang Aroma Spekuk Ini Antigagal Renyah dan Pasti Enak
Bisa dibilang serius karena berkaitan langsung dengan asupan gizi anak tersebut.
Namun permasalahan tersebut sulit dipungkiri karena sebagian besar anak autis mempunyai pola makan idiosyncratic atau perilaku makan yang tidak biasa.
Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, beberapa penelitian telah membuktikan bahwa diet GFCF dapat mengurangi perilaku tersebut.
Diet GFCF adalah diet yang dilakukan bagi penyandang autis dengan membatasi konsumsi makanan yang mengandung gluten dan kasein.
Tujuan diet ini ialah menghilangkan gejala autis, menghentikan atau menunda proses degeneratif yang berlangsung, meningkatkan kualitas hidup, serta memberikan status gizi yang baik bagi anak penyandang autisme.
Sebuah penelitian tahun 2016, menunjukkan bahwa makanan yang mengandung gluten dan kasein tidak dapat dicerna dengan baik oleh saluran pencernaan anak autis karena terjadi kebocoran saluran cerna (leaky gut syndrom).
Sehingga menyebabkan berbagai zat-zat baik yang baik ataupun buruh bagi tubuh dapat melewati saluran cerna ke dalam darah hingga sampai ke otak.
Akibatnya makanan yang mengandung kasein dan gluten dapat membentuk kaseomorfin dan gluteomorfin sehingga diduga dapat menyebabkan gangguan perilaku.
Baca Juga : Nikahi Miliader Asal Makasar, Andi Soraya Kini Hidup Serba Mewah! Glamour Dapurnya Jadi Sorotan
Contoh makanan yang mengandung gluten ialah makanan yang berbahan tepung terigu seperti biskuit, gorengan, wafer, ayam goreng dan sebagainya.
Sedangkan makanan yang mengandung kasein ialah makanan berbahan susu seperti ice cream dan susu siap minum dalam kemasan.
Diet ini memang tidak mudah dilakukan karena sifat anak yang memilih-milih makanan dan umumnya makanan yang ada di sekitar kita merupakan makanan yang mengandung gluten dan kasein.
Keberhasilan diet GFCF dipengaruhi oleh perilaku anak yang menerima diet tersebut dan juga perilaku orang terdekat atau orang-orang sekitar.
Baca Juga : Sedapnya Aroma Poffertjes Pandan Tape Hitam Bikin Ngemil Jadi Makin Seru
Source | : | tribunnews.com |
Penulis | : | Miyanti |
Editor | : | Virny Apriliyanty |
KOMENTAR