Nantinya, data coffee shop yang berminat dan data barista korban PHK yang dimiliki BGI akan dibagi menjadi cluster-cluster berdasarkan wilayah.
Bagi barista yang tertarik, bisa mendaftar ke salah satu coffee shop di klasternya.
Data barista pendaftar akan dishare ke coffee shop terkait untuk diseleksi atau diatur gilirannya.
Pengasuh menentukan mekanisme dan persyaratan sesuai kondisi masing-masing.
Seperti halnya berapa kali dalam seminggu bias menyediakan shift untuk barista asuh, berapa lama bias menerima Barista Asuh untuk bekerja, dan apa bentuk apresiasi yang bias diberikan pada Barista Asuh (uang transportasi/uang makan/bingkisan/bentuk lainnya).
Namun sebelum menerima barista asuh, para pengasuh terlebih dahulu akan melakukan background check atau verifikasi.
Seperti halnya melihat berkas calon barista asuh yang tercantum informasi coffee shop terakhir tempatnya bekerja dan sponsor.
Setelah itu Coffee Shop (pengasuh) bisa menghubungi langsung calon Barista Asuh yang lolos verifikasi.
Inti dari gerakan ini untuk menjaga semangat para barista yang dirumahkan sekaligus menyambung tali silaturahmi.
“Syukur-syukur bisa membuka peluang dan mendatangkan pemasukan bagi mereka,” katanya.
Lantas apa manfaat bagi coffee shop yang mengasuh barista?
Nah, dengan ikut gerakan Barista Asuh, coffee shop juga jelas mendapatkan keuntungan.
Misalnya, barista-barista tersebut akan mengumumkan di media sosialnya, dimana coffee shop yang mengasuhnya.
Selain mendapat tambahan exposure media sosial, para pelanggan tetap barista itu akan membeli produk coffee shop pengasuhnya.
Dengan begitu coffee shop juga mendapat tambahan pemasukan.
Di sisi lain, barista asuh dan coffee shop juga bisa saling belajar dan tukar pengalaman ilmu perkopian.
Dengan begitu, ekosistem industri kopi ini tetap terjaga. Makin kuat menghadapi pandemi.
Sementara itu, pemilik akun @mas_fotokopi yang juga menjadi penggagas gerakan ini menerangkan, selama pandemi COVID-19, banyak coffee shop yang tertatih-tatih.
Apalagi sejak aturan PSBB diperketat.
Makin banyak coffee shop tumbang.
“Terutama coffee shop yang berada di mal-mal. Karena hampir semua mal di Jakarta tutup,” kata @mas_fotokopi.
“Belum lagi coffee shop yang mengandalkan konsep tempat keren untuk pelanggannya. Kini, pelanggan gak boleh lagi nongkrong di situ. Omzet mereka kadang tak cukup dengan hanya berjualan online,” imbuhnya.
Uniknya, berdasar pantauan @mas_fotokopi, kini coffee shop yang banyak bertahan justru berada di pinggiran Jakarta.
Dan biasanya coffee shop yang berdiri sendiri di pinggir jalan atau di ruko. Mereka masih bisa survive.
Nah, untuk itu @mas_fotokopi mengajak coffee shop yang masih bisa bertahan untuk ikut gerakan Barista Asuh. “Satu shift tapi dampaknya luar biasa. Ikut memperkuat ekosistem perkopian Indonesia,” kata dia.
Menurut data terkini, sudah ada sekitar 43 coffee shop di berbagai daerah menyatakan komitmennya untuk ikut gerakan ini. Misalnya A Tale of Two Coffee Beans, Contrast, Obar, Twin Coffee House, Oak Tree, dan lainnya.
Gerakan Barista Asuh ini menjadi bukti bahwa para pelaku bisnis kopi di Indonesia tak mengeluh dalam kondisi sesulit apapun.
Tak ada dalam kamus mereka kata: cengeng. Apalagi minta-minta. (*)
Penulis | : | Virny Apriliyanty |
Editor | : | Virny Apriliyanty |
KOMENTAR